Jurusan Kimia dan N-Ach

27 Februari 2008

Mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher dikenal sebagai politisi Inggris paling populer pada paruh kedua abad ke-20. Ketokohannya hanya bisa disaingi oleh Sir Winston Churchil yang memimpin negeri itu melawan Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua. Seperti juga Churchil, Thatcher dikenal sebagai pemimpin yang teguh pendirian, disiplin, pekerja keras dan pintar diplomasi. Thatcher yang menjadi perdana menteri selama tiga periode sukses merebut kembali pulau Falkland dalam perang Malvinas melawan Argentina. Wanita besi ini juga berhasil memprivatisasi perusahaan-perusahaan Inggris yang tengah sekarat hingga bangkit dan menjadi perusahaan sehat bahkan menghasilkan keuntungan berlipat ganda. Namun bila ditelusur riwayat hidupnya, Margaret Thatcher ternyata bukanlah mahasiswa fakultas ilmu politik atau ilmu hukum ketika menempuh pendidikan tinggi selepas menyelesaikan sekolah menengah. Ia menyelesaikan penddikan tinggi sebagai sarjana KIMIA. Bahkan sebelum terjun ke dunia politik, ia bekerja sebagai peneliti di sebuah laboratorium di London.

Kenyataan tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan atau mengherankan di negara-negara Barat. Bahkan di negeri kita sekalipun, belum ada presiden yang merupakan alumni fakultas ilmu politik atau ilmu pemerintahan. Ir. Soekarno adalah alumni teknik sipil dari ITB, pak Harto seorang militer, BJ Habibie seorang ahli pesawat terbang, Gus Dur adalah ulama, Megawati pernah belajar di Fakultas Pertanian IPB dan SBY adalah seorang jenderal. Bila ditarik kesimpulan, latar belakang pendidikan tidak selalu menjadi tolok ukur jenis jabatan puncak yang disandar seseorang di kemudian hari.

Menilik fakta di atas sebenarnya amatlah terbuka peluang bagi alumni Jurusan Kimia untuk menduduki jabatan-jabatan publik dan politik. Seperti warga negara lain, alumni kimia memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dan berjuang menjadi pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal. Hanya saja, sudahkah peluang itu dimanfaatkan?

Secara umum, jurusan Kimia memang tidak mengajarkan mahasiswanya untuk menjadi politikus, pemimpin masyarakat atau menduduki jabatan lain. Tidak satupun mata kuliah di jurusan Kimia yang secara spesifik memberi bekal untuk keperluan tersebut. Kalaupun ada hanya wawasan singkat tentang kewarganegaraan dan ilmu budaya dasar yang membuka wawasan tentang bidang ilmu sosial. Jurusan Kimia memang menyiapkan mahasiswanya menjadi calon-calon ilmuwan yang diharapkan mampu menggunakan kemampuannya untuk mengembangkan ilmu Kimia dan mengaplikasikannya demi kemaslahatan masyarakat.

Seperti perguruan tinggi yang lain di Indonesia, cita-cita umum mahasiswa setelah wisuda adalah bekerja menjadi profesional. Bahkan anggapan ini konon paling dominan. Jangan heran bila setiap ada bursa kerja atau tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selalu dituju oleh para fresh graduate itu. Tak ada yang salah dengan kenyataan ini ketika negara tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup bagi warga negaranya dan kondisi ekonomi yang seret saat ini. Orientasi para mahasiswa adalah bekerja dulu, soal yang lain pikir aja nanti.

Mahasiswa Kimia seolah dituntun oleh peraturan tidak tertulis bahwa bidang kerja yang tersedia bagi alumni jurusan Kimia adalah bekerja sebagai QC (quality control), dosen, guru, konsultas lingkungan atau kerja-kerja berbasis laboratorium lainnya yang dilakukan dengan menjadi karyawan suatu perusahaan atau institusi. Sangat sedikit mahasiswa Jurusan Kimia melirik profesi-profesi lain di luar bidang-bidang itu yang berprinsip pada kemandirian dan idealisme keilmuan yang dimiliki. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja diakui atau tidak, lingkungan kampus, sistem pengajaran, kurikulum, dan anggapan masyarakat mendorong dan memosisikan mahasiswa memilih lapangan-lapangan itu. Bahkan ikatan alumni juga memfungsikan dirinya untuk menjadi semacam agen pencari kerja bagi adik-adiknya. Sikap untuk menjadi inovator, kreator atau wirausahawan kurang di-“anggap” di lingkungan tersebut. Bahkan upaya untuk menumbuhkan tiga hal tersebut sangat minim bila tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali.

Untuk hal-hal ini patut kiranya kita iri dengan alumni dari jurusan Ilmu Hukum yang membuka kantor pengacara, alumni ilmu ekonomi yang membuka perusahaan sendiri, alumni fakultas teknologi informasi yang jadi mendirikan online store dan menciptakan sistem informasi mutakhir dan lain-lain. Bagaimanakah dengan alumni jurusan Kimia? Berapakah yang tertarik memiliki pabrik kecap sendiri atau memiliki perusahaan sabun sekelas Unilever? Adakah yang ingin membangun laboratorium penelitian independen melebihi Sucofindo? Atau sudahkah ada yang memikirkan untuk membuat produk-produk consumer goods seperti kosmetika, tekstil, produk kesehatan, cat dan pewarna, tinta, pengawet, dan lain-lain yang lebih unggul dari yang beredar di pasaran saat ini? Atau adakah mahasiswa Jurusan Kimia yang bercita-cita menjadi Bupati, Walikota, Gubernur, Anggota DPR atau Presiden sekalipun? Adakah yang bercita-cita meraih hadiah Nobel bidang Kimia? Saya berharap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu ada dan banyak jumlahnya.

Ilmuwan sosial Amerika Serikat David C. McLelland pada tahun 1961 mengeluarkan tesis bahwa kemajuan suatu peradabaan ternyata berkorelasi langsung dengan need of achievement atau n-ach yang tinggi dari masyarakat tersebut. N-ach adalah kandungan isi dari bahan bacaan dan atmosfer pemikiran yang membangkitkan dorongan untuk berjuang, meraih impian, menghargai kerja keras, menjadi pemenang, atau meraih prestasi tertinggi. Masyarakat dengan n-ach yang tinggi, ternyata berpotensi melahirkan inovator, pemimpin, wirausahawan yang tangguh yang mendorong lingkungan sekelilingnya untuk menggapai kemajuan. Sumber n-ach adalah pola interaksi anak dengan orang tua, nilai-nilai keagamaan, lingkungan pergaulan, budaya dan lain-lain.

Lembaga pendidikan adalah institusi yang secara sengaja diciptakan untuk menyemai dan meningkatkan n-ach pada peserta didiknya melalui proses belajar-mengajar. Tetapi sudah bukan rahasia lagi bahwa dunia pendidikan kita terlalu berorientasi pada satu aspek yaitu proses pengajaran alias transfer ilmu dan ketrampilan. Dengan kata lain dunia pendidikan kita terlalu berkutat pada upaya pencapaian kecerdasan intelektual. Padahal seperti direkomendasikan oleh Komisi Pendidikan PBB dengan konsep long life education-nya, proses pendidikan semestinya memiliki empat aspek yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Selain itu masih ada piranti lain untuk mendukung yaitu learning organization dan learning society.

Memang haruslah diakui, jurusan Kimia tidak mengemban keempat aspek itu karena memang tidak dirancang untuk itu. Konsep long life education tidak bisa dibandingkan dengan masa belajar di jurusan kimia yang dibatasi hanya 8-14 semester. Namun patut menjadi renungan, kemajuan sains di negara-negara Barat, Jepang, dan kini di Cina dan India tak lepas dari sikap mental warga kampus dan atmosfer pemikiran yang ditanamkan ke benak para lembaga akademik dan mahasiswa  lewat berbagai instrumen kurikulum dan budaya akademik. Tak perlu jauh-jauh berkaca pada negara lain. Untuk soal ini kita patut cemburu pada Pondok Modern Darusalam Gontor di Ponorogo yang memegang teguh falsafah pendidikan yang diajarkan ke setiap santrinya : metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri.  Sebagai pencetak ulama, Gontor sudah melihat hasil didikannya bertebaran di pentas publik seperti Nurcholis Majid, Hasyim Muzadi, Hidayat Nurwahid, Dien Syamsudin dan lain-lain.

 Sri Nanang Setiyono

9 Tanggapan to “Jurusan Kimia dan N-Ach”

  1. Papae Tegar said

    Hehehe… pak nanang …. gua termasuk produk gagalnya jurusan kimia (murni?) FMIPA Undip. gua dulu masuk kategori mahasiswa yang Kosuma (bukan nama koperasinya mahasiswa undip lhoo tapi kelompok satu koma) Ipk gua tiap semesternya sering diawali dengan angka satu koma…. hahahaha…. emang dulu gua bercita-cita jadi ahli kimia, tapi apa daya otak ndak nyampe….(kaciaan deh gua). Tapi gua ndak patah semangat. (ndak jadi ahli kimia ndak patheken kata pepatah) Alhamdulillah dengan pertolongan Allah SWT, gua bisa mengabdikan diri pada bangsa dan negara yang kita cintai ini lewat jalur bela negara alias jadi Prajurit Suka Rela…… Pada 10 tahun pertama tugas gua emang jadi Bapak pembangunan alias mbangunin para Taruna yang tidur dikelas karena kecapean atau pusing lihat persamaan Schrodinger atau ketidak pastian Heishenberg yang gua ajarin (walaupun gua sampe sekarang tidak tau gunanya mempelajari itu suerrr !) . Periode Letda sampe Kapten ilmu gua kimia ndak sampe 5 % yang kepakai ! yang paling banyak kepake ilmu OPSPEK gua dulu kalau ngerjain mahasiswa baru….hehehe…
    Ternyata Kimia itu tidak indah, kimia itu tidak mudah……hahaha…
    Sekarang setelah 14 tahun, Praktis ndak ada satupun ilmu kimia yang kepake oleh gua. Lha wong tugasku sekarang jadi Kepala Gudang Munisi di pedalaman Sulawesi…….

    Papae tegar
    Ndak kalah ama Lulusan ITB, UI, ITS, Unair dsbnya….. Hidup Kimia Undip !

  2. M J D F said

    4 PAPAE TEGAR………
    SEKALI” PULANG KAMPUS BBAGI PENGALAMAN CERITA HIDUPNYA…… DITUNGGU YA…. JOHAN AUROTNT

  3. Papae Tegar said

    MJDF = M Cholid DJunaedi F ? ini pak cholid ya ? gimana kabarnya pak ? di kampus Tembalang jadi bapak pembangunan ndak ? oh ya tolong bantuin doa ya… gua selama 1 bulan ini lagi penataran dlm rangka seleksi seskoad . muga-muga klo bisa lulus sesko bisa pulang jawa lagi…

  4. irene said

    ok banget artikelnya pak nanang alumni kimia tetap jaya dimana saja, di seantero dunia raya .

  5. hariansyah said

    mas nanang>? apa kabar? sekarang dimana di jakarta apa di semarang? no HP donk

  6. rita said

    wah….. jadi semangat n bangga neh jadi mahasiswa baru jrusan kimia, pokoknya aq harus membuktikan bahwa jurusan kimia emang hebat !!!

  7. Nety 99' / Ny.Toni said

    Dik Rita, angk brp?
    selamat bergabung, silahkan mau ngobrol apa aja di sini bebas, yg penting btanggungjawab…

  8. seno ajah said

    Duh…..d’ Rita, bagus juga spirit kamu…..diinisiasi langsung muncul….,

    intinya, baik jurusan maupun alumni kimia memang hebat…….., IAGWWP

  9. Nurmahirah bt mohd zakir said

    hebat sekali persembahan ini.gue harap gue dpt manfaatknnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: